Manado
Drs Sinyo Harry Sarundajang (SHS) benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai calon incumbent ketika mengusung Drs Djouhari Kansil MPd (Tokoh Nusa Utara) sebagai calon wakil gubernurnya, sekaligus memasang Ir Siswa Rahmat Mokodongan (Tokoh Bolmong) pada jabatan Sekprop Sulut. Hal ini disebut-sebut sebagai strategi brilian karena merepresentasikan kolaborasi tiga etnis besar Sulut (Minahasa-Bolmong-Nusa Utara).
Sayangnya, set piece calon dari Partai Demokrat ini harus mengorbankan satu bidak birokrat andalnya, di mana Drs HR Makagansa harus ‘degradasi’ dari kursi sekprop ke jabatan Kadis Diknas Sulut, mengisi posisi yang ditinggalkan Djouhari Kansil. Lalu apa tanggapan Makagansa sendiri?
Mantan Sekretaris Kota Bitung ini saat dihubungi lewat handphonenya tadi (28/05) malam, mengaku tidak merasa dikorbankan, dan malah merasa enjoy serta plong atas hasil setting SHS tersebut. “Saya tidak merasa dikorbankan (SHS),’’ ungkap birokrat smart yang kenyang pengalaman organisasi ini. “Jabatan itu adalah suatu kepercayaan. Dan saya sebagai seorang pegawai negeri Ssipil, harus siap untuk ditempatkan di mana saja. Ingat, bah-wa kepercayaan yang diberikan atasan ini merupakan amanah yang harus dijunjung tinggi,” tambahnya.
Lalu apa yang membuatnya tetap enjoy? Makagansa pun sedikit menguak tabir set-tingan SHS dengan mengu-tak-atik Kansil-Mokodongan dan dirinya. Dia mengakui, awalnya dirinya mendapatkan tawaran sebagai birokrat asal Nusa Utara untuk berpasa-ngan dengan SHS demi mem-bendung kolaborasi pasangan lainnya yang mengusung duet Minahasa-Bolmong. Saat di-tawari, dia mengaku perlu mengomunikasikan dengan istrinya, Ny Wisye Rompas yang notabene anggota F-PDIP di DPRD Sulut.
Diakuinya, jika dirinya maju bersama SHS dari Partai Demokrat, akan ada benturan kepentingan melibatkan dua parpol, di mana istrinya dari PDIP tentunya akan meng-hadapi dilema memilih antara suami dan calon pasangan dari PDIP yang mengusung Drs RM Luntungan dan Ham-di Paputungan (RML-HP). “Da-ri pada terjadi ketidakharmonisan di rumah, lebih baik tidak,’’ ungkapnya. Sehingga akhirnya, dicari figur Nusa Utara lainnya yang kemudian mencuatlah nama Drs Djouhari Kansil MPd.
Kenapa bukan figur lain? “Sebab di birokrat eselon IIa Pemprop Sulut sekarang ini hanya ada dua dari Nusa Utara. Pak Kansil dan saya,’’ tukasnya. Nah, konsekuensi lainnya, dirinya harus ditarik dari posisi sekprop untuk mengedepankan Mokodongan (figur Bolmong) demi penyeimbangan. Saat ditanyai apakah dirinya merasa terde-gradasi, Makagansa membantahnya. Menurutnya, pergeseran melalui pelantikan dan serah terima jabatan (sertijab) yang dilakukan SHS, bukan dalam posisi sekprop ke Sa-tuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Melainkan dari asis-ten pemerintahan dan kesra ke eselon II. “Pelantikan ini bukan dari sekprop ke dinas, tapi masih dalam posisi yang sama, yakni eselon IIa ke eselon IIa. Jadi, tidak ada yang aneh dalam hal ini,” tandasnya.
Dia menambahkan, jabatan sekprop yang diembannya juga bukan haknya, melain-kan hanya temporary saja. Jabatan hanya dalam jabatan asisten ke Kadis Diknas, yang juga sama-sama jabatan eselon IIa. “Tidak ada degradasi seperti yang dikompor-kompori sejumlah kalangan. Cuma saat ini, dari jabatan staf ke jabatan pelayanan. Itu saja,’’ tandas birokrat yang sangat diandalkan SHS ini.
Makagansa menegaskan, dirinya sangat bangga dengan keputusan SHS, yang telah memilih Kansil untuk menjadi pasangan dalam Pemilukada 2010, sebagai calon wakil gubernur (cawagub). “Dengan memilih pak Kansil yang adalah warga Nusa Utara se-bagai kandidat wakil gubernur, hal itu merupakan jami-nan keseimbangan” katanya kembali.
KANSIL SURPRISE
Diusungnya Drs Djouhari Kansil MPd sebagai calon Wakil Gubernur (wagub) Sulut dari Partai Demokrat men-dampingi Drs SH Sarundajang pada Pemilukada Sulut 2010, ditanggapi Kansil, Jumat (28/05).
Menurutnya, ia sama sekali tidak menyangka akan dipilih menjadi calon wagub oleh SH Sarundajang, karena hal itu berlangsung cepat. “Ini surprise untuk masyarakat Sulut dan bagi saya sendiri, karena penentuan saya sebagai calon wakil gubernur untuk mendampingi SH Sarundajang di saat-saat terakhir, menjelang pendaftaran di KPU,” jelasnya.
Ia juga menyakini bahwa SH Sarundajang memiliki ke-mampuan yang tinggi dalam memilih calon yang tepat untuk mendampinginya, se-hingga ketika kepercayaan itu jatuh pada dirinya, Kansil me-rasa penilaian Sarundajang telah melalui penilaian dan kajian yang matang.
Dipilihnya dia sebagai calon wagub, tambah Kansil, merupakan suatu kepercayaan terhadap dirinya. Selain itu, sebagai bentuk kepercayaan dari SH Sarundajang kepada putra asli Nusa Utara, di mana kesempatan tersebut merupakan yang pertama kali dalam perjalanan Propinsi Sulut.
“Kapan lagi ada suatu keper-cayaan kepada masyarakat Nusa Utara lewat salah satu putra aslinya untuk menjadi pemimpin di masa depan. Saya kira ini yang harus di-tangkap oleh masyarakat Su-lut, khususnya dari Nusa Uta-ra,” katanya seraya menam-bahkan bahwa tentu yang paling utama adalah tuntu-nan dan penyertaan dari Tuhan yang mahakuasa.
Mantan Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulut ini juga menyatakan siap ber-juang bersama SH Sarundajang, partai, seluruh kader Demokrat dan dukungan masyarakat dalam mengha-dapi pemilukada. Ketika di-tanya peluang untuk mendulang suara di Nusa Utara, Kansil menyatakan tidak bisa dengan hanya memperkira-kan saja. Namun ia optimis masyarakat bisa melihat latar belakangnya sebagai putra asli dari daerah tersebut.
“Maksudnya, sebagai putra asli Nusa Utara kiranya ke-sempatan itu bisa diambil manfaatnya oleh masyarakat dan tidak disia-siakan pe-luangnya. Karena ini untuk pertama kalinya ada putra Nusa Utara yang menjadi ca-lon wakil gubernur,” pung-kasnya.
Sunday, May 30, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment